Pornografi seolah tidak bisa lepas dari kehidupan generasi muda. Berbagai permasalahan berujung tindak kejahatan seringkali muncul akibat dari maraknya pornografi. Tidak hanya sekadar menonton situs-situs porno di media online, saat ini remaja bahkan telah ikut terjun secara langsung di dalamnya. Sek bebas, praktik porstitusi dan fenomena “cabe-cabean” adalah bukti nyata. Tentunya hal ini menjadi tantangan serta kekhawatiran yang luar biasa bagi para generasi penerus bangsa dan orang tua mereka.
Seiring kebebasan yang semakin diumbar, banyak remaja yang masih berumur belasan tahun menjadi pelakunya. Pergaulan yang bebas menjadi salah satu faktor tumbuh suburnya fenomena pornografi. Kemudahan mengakses situs-situs porno di media online, bermunculannya tempat-tempat porstitusi terselebung, dan lemahnya pengawasan masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya juga menjadi faktor pelengkap yang kian menjadikan pornografi semakin merajalela. Lebih parahnya lagi, banyak praktik pornografi yang dilakukan secara terang-terangan. Menjajakan diri di media sosial telah menjadi trend. Tidak jarang pula, di tempat-tempat umum banyak remaja yang tanpa rasa malu mengumbar kemesraan dengan kekasihnya. Celakanya, hal ini dianggap menjadi sebuah hal yang biasa serta dianggap menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia oleh masyarakat kita. Padahal, sudah banyak fakta yang berakibat kepada kehancuran masa depan remaja akibat pornografi, seperti pernikahan dini dan hamil di luar nikah yang berujung kepada menggugurkan kandungan ataupun dikeluarkan dari sekolah tempat mereka menuntut ilmu.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa lemahnya pendidikan agama yang seharusnya diajarkan sejak dini menjadi salah satu faktor utama mudahnya remaja terjerumus dalam lubang kegelapan ini. Selain itu, peranan orang tua juga tidak bisa dilepaskan demi menjaga anak-anaknya agar tidak terseret arus pornografi. Pembekalan ilmu agama seharusnya menjadi prioritas utama dalam perkembangan anak. Dengan begitu, anak akan mempunyai pondasi yang kokoh sebelum terjun di tengah masyarakat yang penuh dengan tantangan dan godaan. Pengawasan orang tua terhadap pergaulan anaknya di uar rumah juga harus dibudayakan. Orang tua dan keluarga adalah ujung tombak yang seharusnya bisa menjadi senjata untuk melawan keberingasan pergaulan bebas yang sedang menghantui anak-anak mereka. Yang terakhir, hal yang tak kalah penting adalah pengawasan serta ketegasan masyarakat untuk menekan perkembangan pergaulan bebas di lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, perkembangan pornografi yang semakin beringas bisa ditekan dan dihentikan sehingga remaja sebagai generasi penerus bangsa dapat diselamatkan.
Dhedi R Ghazali, S.Kom


0 komentar:
Posting Komentar